Tepat setahun yang lalu, aku mengalami peristiwa yang hingga kini selalu membuat aku menangis bangga. Seorang anak telah dititipkan di rahimku kurang lebih 15 minggu, dengan ukuran dan usianya yang masih sangat kecil, ia telah mengajarkan aku, ibunya–dan juga ayahnya, betapa besarnya kekuasaan Allah.

Allah sangat menyayangimu, melebihi aku, ibumu dan juga ayahmu yang belum sempat bertemu denganmu, hingga Allah mengambilmu kembali dari rahimku. Tangis kesedihan pilu dan penyesalan menyelimutiku berhari2 setelah kepergianmu. Namun ayahmu mengingatkanku, kamu tidak pergi meninggalkan kami, tapi hanya pergi sementara untuk menunggu tibanya hari kami dan kamu berkumpul di syurga Allah. Kamu adalah tabungan kami di akhirat. Kamu telah menunaikan tugasmu untuk bersemayam di rahimku dan mengajarku sebuah hikmah besar. Betapa bangganya kami kepadamu, nak.

Yahya, begitu kami menamaimu. Nama yang langsung diberikan Allah, seperti Allah memberikan nama kepada nabi Yahya.

———————–
Malam itu usia kandunganku seharusnya sudah hampir 6 bulan, atau 24 minggu. tapi kami missed control 1 bulan. dan karena kesulitanku menelan obat, aku jarang minum vitamin yang dikasih dokter.

Saat kontrol ke klinik ibunda, aku divonis keguguran, karena tidak terdengar lagi detak jantung janin dalam rahimku. Tapi aku dan suami, terutama aku, masih seperti melamun, dan belum percaya. Memang sih aku belum sempat merasakan tendangan janin itu seperti apa. Saat itu yang sempat aku rasakan adalah setiap sehabis bersin, perut aku berkedut kecil. Dan sebelum ke dokter, aku merasa janin masih hidup di rahimku, tidak ada perasaan apapun. Jadi aku dan suami masih bertanya2, masa iya sih sudah tidak berdetak.. Lalu dokter menyarankan untuk diinduksi, nanti dikasih obat mules. Tapi saat itu aku sama sekali belum punya pengetahuan soal keguguran, apa itu induksi, dsbnya. Lalu kami memutuskan untuk mencari second opinion dulu sebelum bertindak. Besoknya aku dan suami pergi cek ke RSB Duren Tiga, kami ditangani oleh dr Nana. Dicek, ternyata vonisnya sama, detak jantung janin sudah tidak ada, dan janin sudah tidak berkembang lagi, terhenti di 15 minggu. Dr Nana memberikan 2 opsi, dikuret atau diinduksi. Istilah baru lagi ya, kuret. Tapi dari penjelasannya, sepertinya kuret lebih baik. Kami pun minta rincian biayanya. Ternyata cukup mahal, ya setara dengan harga ceknya yang mahal. Akhirnya aku dan suami kembali lagi ke Klinik Ibunda, dan diberikan obat mules serta rincian biaya yang relatif lebih murah.

Malam, sesampainya di rumah, aku dan suami berdiskusi soal nama yang sudah pernah kami siapkan jauh-jauh hari. Dan karena usia janin sudah 15 minggu berarti janin sudah ditiupkan ruh oleh Allah. Dua buah nama, masing2 buat jenis kelamin yang berbeda, karena kami belum tahu jenis kelamin si janin. Saat itu kami belum terlalu sedih, mungkin karena masih setengah sadar juga mendengar berita itu.

Setelah makan malam, aku minum obat mules yang diberikan dokter. Katanya sih efeknya mungkin 2-3 hari lagi. Tapi kira2 sejam kemudian, aku merasa nyeri di perut bagian bawah, seperti mau menstruasi. Lagi2 saat itu aku tidak tahu dan tidak mencari tahu apa rasanya diinduksi. Saat itu aku masih tidak terlalu sakit dan aku masih bisa baringan dengan suami. Beberapa menit kemudian nyeri itu datang lebih cepat dengan durasi yang lebih lama, sampai akhirnya aku benar2 kesakitan dan aku bangunkan suamiku. Aku merasa ‘becek’ ketika periksa celana dalamku, ternyata ada darah, dan aku semakin nyeri di perut bawah, sampai tidak bisa berdiri tegak lg. Suami setelah tahu aku berdarah, langsung panik, dan menelpon dr Dewi, katanya langsung dibawa saja ke klinik. Tapi aku udah ga kuat dengan nyerinya, cuma bisa membungkuk menahan sakit, ga bisa jalan. Akhirnya suami terpaksa menggendongku ke mobil :'(

Di perjalanan, suamiku ngebut karena jalanan juga kosong, saat itu jam menunjukkan jam 1 dini hari, tapi aku kedinginan dan mabuk, akhirnya muntah di dalam mobil, eeeewww. Sampai di klinik, pagarnya masih digembok, kami tidak tahu apa dr Dewi sudah koordinasi dengan orang di klinik bahwa kami mau datang. Dibel berkali2, cukup lama juga sampai akhirnya pintu dibukakan. Aku digotong lagi ke kursi roda, kemudian di bawa ke sebuah kamar. Mulesnya masih berasa, dan aku keringat dingin campur mual. Mulesnya mulai bercampur dengan mules mau buang air besar, rasanya aku ingin sekali BAB. Dokternya belum datang juga. Akhirnya seorang bidan yang menangani aku. Baik sih bidannya, dia mengajari aku cara bernafas dan mengeden. Dia juga periksa dalam lewat bawah, katanya sih cek pembukaan, tapi akunya tegang banget.

Aku diajarkan jangan berteriak ketika mengeden, jangan bersuara. Ambil nafas yang dalam lewat hidung, lalu hembuskan lewat mulut sambil melihat perut, ngedennya sama seperti mau BAB. Waw aku baru tahu. Lalu jangan diangkat pantatnya, nanti bisa robek dan dijahit. Jangan mengeden kalau tidak mules, karena bisa robek juga. Jadi aku harus nunggu mules dulu. Iya, kok sekarang malah jadi berkurang durasi mulesnya. Pas lagi ga mules, aku disuapi roti dan teh manis, katanya biar kuat dan isi perut, muntah terus.

Kedua orangtua dan adikku pun dihubungi saat itu, dan mereka kaget, langsung datang. Ketika melihatku, papaku langsung shock hampir mau jatuh :'( katanya sih karena lagi ga enak badan juga. Mamaku langsung mengusap2 aku dan bantu suapi makanan juga. Tapi agak membuatku kesal juga dengan setiap nasihatnya di saat aku sedang mules2, aku lebih ingin suami yang selalu di sampingku.

Mules nyeri datang lagi, dengan izin dr Dewi lewat telp, aku boleh mulai mengeden. Ternyata nafasku kurang panjang. Aku berusaha terus, sampai akhirnya keluar sebagian si janin, tapi tersangkut karena aku mulai jarang mules lg dan ga boleh diedenin. Disuruh nunggu sampai dokternya dateng, ya ampun lama bgt. Aku mules2 lagi tapi ga bisa ngapa2in. Jadi cuma bs ganti2 posisi baringnya aja. Dengan sebagian janin terasa nyangkut di bawah ku.

Sekitar jam 5, dokter baru dateng. Ya ampun lamanyaaaaa… Aku dipindahkan ruangannya ke yang berAC, euh dingiiin. Trus aku mau diinfus, tapi ga bisa karena terlalu tegang dan takut. Akhirnya disuntik paha kananku, auwww sakit. Seketika itu juga mulesnya makin menjadi, dan aku disuruh mengeden lagi. Suami dan mamaku ikut menyemangati. Dan keluarlah semuaaaaa, aku berasa lega banget dan langsung menangis bahagia. Suami langsung mencium keningku dan memujiku. Sekali suntik lagi di paha kiriku, berasa keluar sesuatu lagi, katanya itu plasenta. Dan plong lega sekali.

Janin ternyata masih terbungkus bulat dengan ketubannya. Lalu dokter membukanya dan mengecek, katanya memang ada kelainan, jadi bersyukur juga kalau gugur, dan ternyata jenis kelaminnya laki2 :’) Yahyaaaaa!

Saat itu aku belum merasakan duka, yang ada hanya rasa luar biasa sakit melahirkan dan luar biasa bahagia juga sudah berhasil melahirkannya. Janin langsung dibungkus handuk dan plastik, aku juga sempat melihat bentuknya yang kecil kurus tapi sudah memiliki jari walau kepalanya masih besar, badannya panjang, subhanallah, Yahya, kamu anak kebanggaan mama. Kamu masih kecil tapi sudah berhasil mengajarkan mama hal besar, luar biasanya melahirkan kamu :’)

Alhamdulillah, selalu ada hikmah di balik setiap musibah. Ya, ini bisa dibilang musibah, bisa dibilang ujian dari Allah. Aku bersyukur mendapatkan banyak pelajaran dari peristiwa luar biasa ini.

Yahya, anak soleh, doakan kami selalu di sini ya, serta adikmu yang saat ini ada di rahim mama, semoga kita semua bisa berkumpul bersama-sama lagi nanti di syurga Allah, aamiin :’)
We miss you, we love you, always.

Iklan